Meraih Cahaya

Hati yang Gelap

Ruang-ruang yang sempit dengan kerumitan yang pelik. Di saat hati dalam gejolak dan nalar yang tak lagi jernih, semua bercampur dan menemukan kekuatannya ketika bersanding mesra dengan ambisi. Hati buta, nalar lumpuh dan lisan yang tak lagi terkendali. Manusia tak lagi bisa merangkai alur pikir dengan irama yang elok. Kalau sudah seperti itu, di mana lagi kebenaran akan ditemukan, siapa yang bisa kita percayai sebagai penyampai kebenaran, dan kepada siapa kita bisa bertanya dan meminta petunjuk jalan? Kegelapan menyelimuti dan hilanglah keindahan makna penciptaan manusia.

وَاِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ ِانِّيْ جَاعِلٌ فِى الْاَرْضِ خَلِيْفَةً

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” (Al-Baqarah ayat 29).

Kegelapan hati merupakan awal dari semua permasalahan manusia sehingga meninggalkan bercak-bercak kerusakan diri. Diri yang rusak bisa dimiliki oleh siapapun, baik kalangan terpelajar maupun yang tidak. Diri yang rusak sesekali tidak tampak karena tertutupi oleh keindahan busana, jabatan, pangkat, gelar, dan penampilan luar lainnya. Hanya soal waktu saja, diri yang rusak dapat menimbulkan gejala negatif dalam sekejap. Ketersinggungan, kemarahan, dan perbantahan yang berujung permusuhan. Oh, mengapa kita harus masuk ke dalam ranah ini?

Wahai diri, bukannya dahulu engkau begitu baik, engkau jujur, engkau ramah, engkau senyum, namun saat ini engkau begitu lesu, engkau mudah tersinggung dan terpancing kemarahan.

فَوَيْلٌ لِّلْقٰسِيَةِ قُلُوْبُهُمْ مِّنْ ذِكْرِ اللّٰهِ ۗ اُولٰۤىِٕكَ فِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍ

“Maka celakalah mereka yang hatinya telah membatu untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata”. (Az-Zumar ayat 22)

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: \"Iqra\'\"