Kajian Tafsir Al-Qur'an

Al-Qur’an adalah Kunci Mengenal Allah SWT (Bagian 1)

Al-Qur’an itu adalah firman Allah Subhanahu wa Ta‘ala. Al-Qur’an diwahyukan kepada Nabi Muhammad Sallallahu alaihi wa sallam dalam masa 23 tahun. Al-Qur’an diturunkan dari Lauh al-Mahfudz ke Baitul ‘Izzah di langit dunia. Dari Baitul ‘Izzah tersebut diturunkan kepada Nabi Muhammad saw selama kurang lebih 23 tahun lamanya. Diturunkan secara bertahap agar Muhammad memperoleh pemahaman dan kemantapan dengan Al-Qur’an itu. Di sinilah Allah menegaskan maksud penurunan secara bertahap itu, sebagaimana dalam firmannya; “Berkatalah orang-orang yang kafir:Mengapa Al-Quran itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?” demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacanya secara tartil (teratur dan benar) (QS. Al-Furqon: 32). Di samping itu, hikmah penurunan yang bertahap itu agar Al-Qur’an bisa memberikan jawaban atas persoalan-persoalan kemanusiaan dan keummatan yang terjadi. Maka setelah dikodifikasi dalam Mushaf Usman tersusunlah Al-Qur’an tersebut ke dalam 30 juz, 114 surah, dan 6666 ayat.

Al-Qur’an berfungsi sebagai petunjuk, sebagaimana firman-Nya; “Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa (QS. Al-Baqarah: 2), ini yang penting untuk dijelaskan lebih lanjut.

Al-Qur’an merupakan “hudan” (petunjuk), tetapi pada penggalan kalimat berikutnya, seolah ada pengkhususan (takhshis) di mana petunjuk itu “hanya” bagi orang yang bertakwa (al-Muttaqin). Pertama, Al-Qur’an merupakan wahyu yang berisi petunjuk kehidupan, pedoman hidup, sumber keselamatan, dan petunjuk jalan yang diberikan oleh Allah SWT kepada manusia. Jadi kepada semua orang yang mengetahui fungsi Al-Qur’an ini, mereka seharusnya dengan suka hati dan berlomba-lomba untuk membenarkan Al-Qur’an, mendengarkannya serta mengambil pelajaran darinya. Kedua, ternyata hanya orang-orang yang bertakwa saja yang bisa mengambil hikmah dan pelajaran dari Al-Qur’an. Taqwa di sini bukanlah julukan formalitas atau sebatas pengakuan seseorang, akan tetapi taqwa di sini merupakan derajat kehambaan seseorang di hadapan Allah SWT.

Menyatakan beriman terhadap Al-Qur’an belumlah cukup jika tidak diiringi dengan upaya memahami Al-Qur’an itu sendiri. Tanpa upaya untuk memahami Al-Qur’an, maka bagaimana mungkin Al-Qur’an bisa membawa pengaruh kepada kita? Al-Qur’an akan membawa pengaruh kepada kita kalau kita memahaminya serta mengikuti nasehat-nasehat serta petunjuk yang ada di dalamnya. Jika pemahaman merupakan kunci penting, maka bukankah kajian terhadap Al-Qur’an menjadi sangat penting? Bukankah wajib hukumnya bagi setiap Muslim dan Muslimah untuk dapat memahami Al-Qur’an?

Allah SWT berfirman di dalam Al-Qur’an surat Al-Jumu’ah ayat 5: “Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, kemudian mereka tiada memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang zalim.”

Firman di atas sebenarnya merupakan peringatan untuk semua Umat atau hamba Allah SWT bahwa kondisi mereka – yang enggan untuk mempelajari ajaran wahyu Allah SWT yang telah disampaikan para Nabi dan Rasul – tidak berbeda dengan keledai yang membawa kitab-kitab. Tentu saja keledai tersebut tidak mengerti kitab-kitab, meskipun kitab-kitab tersebut mereka pikul atau angkut. Dengan demikian, menyatakan beriman terhadap Al-Qur’an belumlah cukup jika tidak diiringi dengan ketakwaan kepada Allah SWT. Salah-salah, kita bisa saja terkena firman Allah tersebut, jika kita mengaku beriman kepada Al-Qur’an akan tetapi kita tidak memahami isinya.

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: \"Iqra\'\"